Friday, October 30, 2009

Informasi pertemuan rutin

Dengan adanya acara konferensi Astronomi dan Astrofisika di Bandung
maka pertemuan HAAJ pada tanggal 31 Oktober 2009
di undur pada tanggal

Waktu: 7 November 2009
Materi: AstroKimia
Pembicara: Nurfa Swinda Putri

Atas kemunduran jadwal tersebut kami mohon maaf yang sebesar-besarnya..
*Al Amamu*

Wednesday, October 21, 2009

Star Party at LAPAN Tanjungsari Sumedang

10-11 Oktober ini HAAJ melaksanakan Star Party ke tiga. Berbeda dengan 2 star party sebelumnya, Star party ketiga di tahun ini dilaksanakan di tempat yang tidak biasa, bertempat di Stasiun Pengamatan Dirgantara (SPD) LAPAN Tanjungsari, Sumedang. Hanya 17 orang saja pengurus dan anggota yang ikut serta dalam star party ini. Dengan menggunakan angkutan umum dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 500m, akhirnya sampailah peserta star party di lokasi yang dituju. Lokasi stasiun pengamatan ini berada di antara pemukiman penduduk yang cukup ramai, namun masih memiliki polusi cahaya yang tergolong rendah. Malam hari setelah makan malam, pak Bambang memperkenalkan stasiun pengamat dirgantara yang beliau pimpin. Lebih dari 30 tahun SPD LAPAN Tanjungsari beroperasi untuk menunjang kegiatan kedirgantaraan di Indonesia. Disini terdapat teleskop radio dengan 2 antena yang berfrekuensi berbeda akan beroperasi tahun depan. SPD LAPAN Tanjungsari terletak di desa Haurngombong, Pamulihan Sumedang Jawa Barat. Stasiun pengamat matahari ini diresmikan pada tanggal 13 Maret 1980, namun sudah berdiri sejak tahun 1971. Di Indonesia hanya ada 2 stasiun pengamatan matahari yaitu di daerah Tanjung Sari dan Watukosek, Jawa Timur. Kedua stasiun pengamatan tersebut dipergunakan untuk mengumpulkan dan mengolah data aktivitas matahari. Namun tidak hanya matahari yang diamati, kondisi medan magnet bumi dan ionosfer bumi ikut diambil datanya. Data yang didapatkan nantinya akan diteruskan ke LAPAN Bandung. Semua data hasil pengamatan di SPD LAPAN Tanjungsari ini dapat dimanfaatkan oleh bidang lain seperti pertanian dan monitoring polusi udara. Tidak hanya itu, SPD LAPAN Tanjungsari juga dapat dimanfaatkan bagi siwa sekolah untuk mengenal dunia Astronomi. Terbukti semakin banyaknya kunjungan sekolah yang datang setiap tahun.

Setelah mendengarkan pemaparan mengenai SPD LAPAN Tanjungsari, dilanjutkan dengan presentasi singkat yang dibawakan Pak Sungging yang memberikan presentasi singkat mengenai matahari. Walaupun semakin malam namun diskusi mengenai matahari semakin seru. Banyak hal yang ditanyakan oleh beberapa anggota HAAJ dan menjadi suatu diskusi yang menarik mengenai matahari dan SPD Lapan. Selesai diskusi, dilanjutkan dengan pengamatan malam, namun sayang langit tidak begitu bersahabat, awan tipis menyelimuti langit, namun masih ada beberapa obyek langit yang masih terlihat. Peserta star party kemudian dipandu untuk mengisi log book. Sambil menunggu dan berharap langit cerah, beberapa anggota berkumpul dan belajar untuk mengenal rasi dan bintang yang terdapat di dalam rasi tersebut dengan bantuan software komputer. Sebagian peserta yang lain mencoba memotret obyek langit yang ada dengan kamera digital yang dimiliki.

Hampir tengah malam kondisi langit tidak cerah, sedangkan kelembaban udara mencapai 97%. Kelembaban ini terlalu tinggi, sehingga diputuskan untuk tidak membuka teleskop yang telah dibawa sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga ‘keselamatan’ teleskop.

Walaupun langit tidak banyak menunjukan keindahannya namun kita masih melihat beberapa obyek langit, seperti bulan , jupiter, rasi Taurus, bahkan meteor. Kondisi langit ternyata tidak jauh berubah sampai sang matahari terbit. Cuaca pagi yang segar di desa Haurngombong tidak dilewatkan begitu saja oleh beberapa peserta star party. Menikmati udara desa dengan berjalan kaki, mencoba ubi cilembu yang berada di jalan Cilembu serta melihat sekilas tempat tanaman obat keluarga. Konon katanya bibit ubi cilembu yang asli dan enak hanya berada di tempat ini. Di dekat SPD LAPAN ini juga terdapat desa yang telah memanfaatkan biogas yang berasal dari kotoran sapi, untuk kebutuhan memasak masyarakat.

Pagi menjelang siang aktivitas peserta dimulai. Pak Bambang dan Pak Sungging menemani kami untuk berkeliling dan berkenalan dengan alat-alat yang terdapat di kawasan seluas 1,5ha. Peserta melihat berbagai alat-alat yang terdapat di dalam kawasan dan mendapat informasi yang banyak mengenai fungsi dan cara kerja beberapa alat yang ada. Tidak puas jika hanya mengunjungi tempat ini sekali saja, masih banyak ilmu yang akan didapatkan di SPD LAPAN Tanjung Sari. Tidak hanya matahari yang bisa kita pelajari disekitar SPD, kita juga dapat belajar manfaat tidak langsung dari adanya matahari. Buktinya kita bisa belajar bidang ilmu lain yang ternyata dapat terkait dengan matahari. Contohnya mungkin ubi cilembu yang ditanaman di daerah ini he3x....


(Berpose di depan Teleskop Radio)

(Pembukaan Star Party 3 di SPD LAPAN Tanjungsari, Sumedang)

(Berpose saat menghangatkan badan dengan api unggun)


klik link album dibawah ini untuk melihat Foto lebih banyak lagi :

Album

Album lainnya


Thursday, October 15, 2009

Sekilas Peta Langit (2)

Ragam Budaya Pemetaan Langit
Kalau melihat sejarah pemetaan langit
yang dapat dicatat antara lain bahwa bangsa Mesopotamia (10.000 – 3.300 SM) mengenal 60 rasi bintang (termasuk 12 rasi Zodiak), Babylonia dan Assyria (2.900 SM – 600 SM) mengenal 31 rasi (17 atau 18 zodiak). Dari budaya Assyro-Babylonia sekitar tahun 1400 – 1000 SM, terdapat karya berupa catatan tulis Ea Anu Enlil di mana langit dibagi 3 bagian. Di selatan ekuator disebut milik dewa Ea (outer road). Anak Ea bernama Enlil (inner road) yaitu terdiri dari bintang-bintang sirkumpolar. Sementara sekitar ekuator dikuasai oleh Anu. Setiap lingkaran tersebut dibagi lagi di dalam kekuasaan 12 dewa. Sesuai nantinya dengan pembagian 12 bulan dalam setahun. Ratusan tahun berselang hal ini diadaptasi dalam penentuan zodiak yang kini dikenal, the ecliptic-based zodiac.

Penggambaran konstelasi bintang di ruang pertunjukan Planetarium & Observatorium Jakarta. Kredit:Ronny


Pada bangsa Yunani sampai era Aratus dikenal ada 44 rasi bintang (12 zodiak). Secara terpisah di India (pada akhir budaya Mesopotamia) mengenal 60 rasi bintang (17 zodiak, atau 27/28 naksatras yang berdasar posisi Bulan). Tentang naksatras ini sebenarnya berdasar budaya awal pembuatan kalender yang dulu memang umumnya berpedoman Bulan (kalender Bulan). Sebagai contoh pada awal dibuatnya kalender dikenal istilah mazzaloth oleh bangsa Hebrew/Yahudi, bangsa Arab menyebutnya al-manazil, di China Hsiu. Pembagian rasi ada 2 pedoman, mengikuti lingkaran ekliptika atau mengikuti lingkaran ekuator langit.


Kembali pada pendataan rasi bintang, di China pada abad 5 SM dikenal ada 40 rasi bintang (28 zodiak), sementara antara tahun 370 – 270 SM didata 1.400-an bintang yang terbagi dalam 284 rasi bintang. Namun, pada abad 7 M justru jumlah bintang yang didata hanya 1.350 bintang yang terbagi dalam 25 rasi bintang (13 di belahan langit utara dekat Kutub Utara, 12 di dekat ekuator langit ). Beda dengan lainnya, peta langit pada budaya Inca, Amazonia, Maya, Aztec (Amerika) yang cenderung berpedoman pada jalur Bima Sakti (Milky Way). Bukan tempat bergesernya Matahari, Bulan, dan planet (lingkaran ekliptika). Yang tercatat bahwa pendataan mereka telah ada sejak sekitar tahun 3.114 SM.


Peta Langit (Planisfer)

Rekan sang pelaut ulung Columbus, yaitu Amerigo Vespucci (1503), membagi Centaurus yang sangat luas menjadi 2 rasi bintang – Centaurus dan Crux. Dia juga memetakan rasi Triangulum Australe (catatan: namanya digunakan sebagai ide nama benua Amerika). Adapun gambar peta langit dalam bentuk planisfer pada era modern dilakukan Pieter Bienewitz dari Jerman tahun 1536. Terdapat 50 rasi (48 adaptasi dari hasil Ptolemy). Disempurnakan tahun 1551 oleh Gerardus Mercator (pakar geografi dari Finlandia) dalam bentuk bola langit (Mercator’s Projection) sekaligus menambah 1 rasi bintang, Coma Berenices (Yang pertama menggunakan planisfer untuk navigasi). Selanjutnya Bayer dari Jerman menambah 12 rasi.


Tahun 1592: Petrus Plancius dari Belanda menambah Columba.

Tahun 1596: Pieter Dirksz Keyser dan Frederick de Houtman dari Belanda menambah 11

(Apus, Chamaleon, Dorado, Grus, Hydrus, Indus, Musca, Pavo, Phoenix, Tucana, Volans).

Tahun 1661: Jakop Bartsch dari Jerman menambah Camelopardalis.

Tahun 1679: Augustine Royer dari Perancis menambah Monoceros.

(2 rasi ini berdasar catatan dibakukan oleh Petrus Plancius tahun 1613).

Tahun 1687: Johannes Hevelius menambah 7

(Canes Venatici, Lacerta, Leo Minor, Lynx, Scutum, Sextans, Vulpecula).

Tahun 1756: Nicolas Louis de Lacaille setelah mengembara ke Tanjung Harapan, menambah 14

(Antlia, Caelum, Carina, Circinus, Fornax, Horologium, Mensa, Microscopium, Norma, Octans, Pictor, Puppis, Pyxis, Reticulum, Sculptor, Telescopium, Vela).

Pada akhirnya sekarang dikenal ada 88 rasi bintang yang dibakukan oleh IAU pada tahun 1928.


Daftar Pustaka (Tolong liat artikel edisi 1 dan artikel Zodiak sebelumnya)

Bakich, M., 1995, The Cambridge Guide to the Constellations, Cambridge Univ. Press, Cambridge

Cornelius, G., 2005, The Complete Guide to the Constellations, Duncan, London

Sawitar, W., 2005, Constellations: In the Time Scale of the Cultures, in W. Sutantyo, P. W. Premadi, P. Mahasena, T. Hidayat and S. Mineshige (eds), Proceedings of the 9th Asian-Pacific Regional Meeting 2005, p.328-329.


Salam WfR&G

Kisah berikutnya sabar ya, sementara nih adaIntermezzooo…

khusus untuk anggota HAAJ, FOSCA, SIRIUS, POLARIS, FPA yang sudah terdftr (24 org + 4 sedang dicheck lagi) & akan ke Conference of the Indonesian Astronomical Society (HAI) di ITB & Bosscha – 29-31 Okt, dimhn hdr: Sabtu, 24 Okt jam 15:30 WIB. Ada review unik, ajang presentasi/diskusi termsk dari 5 mhsw Fisika UNJ. Pengurus HAAJ hrp hadir jam 13:30 WIB (tuk sediain konsumsi maunya .. hmm). Jadwal ketat, mhn tpt wkt. Berikut jadwal presentasi:


1. (16:00 – 16:20) Teori Observasi dan Pengolahan Data /Hart/ UNJ

2. (16:20 – 16:40) Evolusi Bintang /Sty/ UNJ

3. (16:40 – 17:00) Mengenal FOSCA /Wls/ FOSCA

4. (17:10 – 17:30) A Captivating Birth of Stars /Dino/ HAAJ

5. (17:30 – 17:50) Struktur dan Dinamika Orbit /Fin/ UNJ

= = = = = ISHOMA = = = = = = =

6. (19:00 – 19:20) Dinamika Orbit Bulan /Dvi/ UNJ

7. (19:20 – 19:40) Alat Detektor Astronomi: CCD /Sti/ UNJ

8. (19:40 – 20:00) Impl. Kmr Dgtl utk M-identfks Stlt di Jup. /Epr/ FOSCA


Punten …. Maaf,

Tuk HAAJ dan POLARIS yang buat paper poster, dari panitiaposter is in English (at least its abstract). Jg hrs buat makalah singkatnya ± 2½ hal A4, spasi 1, tuk proceedings.

Tuk SIRIUS dan POLARIS, segera bahas pameran–bersama 1 stand. Sabtu, 17 Okt saat pertemuan HAAJ sedptnya sdh ada draft kebutuhannya.

Tuk semua yang terdaftr dan berstatus “S”, mhn krm alamat sekolah lengkap ke humas_haaj84@yahoo.com Diharap data terkumpul Sabtu, 17 Okt., paling lambat 19 Okt.

Tuk semua: sekalian tuntaskan rencana keberangkatan ke Bdg, termsk akomodasi, dsb. pra atau pasca acara presentasi (Ingat! Tgl 29 Okt, jam 08:30 acara HAI sudah dimulai. Jadi, diharapkan Rabu malam semua sudah di Bandung). Tuk acr di atas dan ke Bdg, hub: Ronny Syamara. Info acr Bdg liat http://astronomy.itb.ac.id/HAI2009.

Hatur Nuhun …. Terima kasih. Salam WfR&G